Pemerintah Harus Waspadai Pelemahan Ekonomi Global
Pemerintah harus mewaspadai terjadinya penurunan perekonomian global.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Bambang Brojonegoro mengatakan pertumbuhan perekonomian dunia saat ini cenderung menurun. Menurut Bambang, penyebab utama menurunnya perekonomian dunia, disebabkan volume perdagangan dunia menurun sehingga proyeksi pertumbuhan diturunkan menjadi 3,8%. "Ini revisi yang cukup besar dari 7% menjadi 3,8%," kata Bambang saat Rapat Badan Anggaran di DPR, Kamis (15/3/2012).
Dalam hal ini, lanjut Bambang, pemerintah harus waspada terhadap menurunnya perekonomian global, terutama di sejumlah negara dunia masih mengalami penurunan perkenomian, di antaranya negara Eropa.
Bambang menjelaskan, perekonomian Eropa tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan dan Eropa mengalami perekonomian yang cukup serius. Penurunannya ini dapat dilihat dari krisis utang, penjualan ritel dan produksinya yang menurun.
Seperti yang diberitakan, karenakan situasi perekonomian dunia yang cenderung menurun, pemerintah merubah asumsi makro perekonomian dalam APBN 2012. Salah satunya dalam RAPBN-P 2012 asumsi pertumbuhan perekonomian diajukan dari 6,7% menjadi 6,5%. Namun, dalam kesepakatan komisi XI DPR RI pertumbuhan perekonomian menjadi 6,3% sampai 6,5%.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Bambang Brojonegoro mengatakan pertumbuhan perekonomian dunia saat ini cenderung menurun. Menurut Bambang, penyebab utama menurunnya perekonomian dunia, disebabkan volume perdagangan dunia menurun sehingga proyeksi pertumbuhan diturunkan menjadi 3,8%. "Ini revisi yang cukup besar dari 7% menjadi 3,8%," kata Bambang saat Rapat Badan Anggaran di DPR, Kamis (15/3/2012).
Dalam hal ini, lanjut Bambang, pemerintah harus waspada terhadap menurunnya perekonomian global, terutama di sejumlah negara dunia masih mengalami penurunan perkenomian, di antaranya negara Eropa.
Bambang menjelaskan, perekonomian Eropa tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan dan Eropa mengalami perekonomian yang cukup serius. Penurunannya ini dapat dilihat dari krisis utang, penjualan ritel dan produksinya yang menurun.
Seperti yang diberitakan, karenakan situasi perekonomian dunia yang cenderung menurun, pemerintah merubah asumsi makro perekonomian dalam APBN 2012. Salah satunya dalam RAPBN-P 2012 asumsi pertumbuhan perekonomian diajukan dari 6,7% menjadi 6,5%. Namun, dalam kesepakatan komisi XI DPR RI pertumbuhan perekonomian menjadi 6,3% sampai 6,5%.
Sumber inilah.com